Share:

Belu, Kalam Batu – Norbertus Mano, seorang buruh Toko UD. Angkasa Ria yang mengalami cacat seumur hidup pada sebuah tragedi kecelakaan di tempat kerja, namun tidak dibantu bos besar. Nasib Norbertus makin tak menentu saat dirinya diberikan surat pemecatan di saat istrinya tengah hamil 6 Bulan.

Pagi itu, Norbertus Mano sudah terbangun dari tidurnya. Berjalan keluar kos lalu duduk termenung meratapi nasib sembari menanti hangatnya mentari pagi yang sebentar lagi terasa.

16 tahun silam, tepatnya tanggal 12-04-2006 menjadi hari istimewa dalam hidupnya. Tanggal di mana dia mengadu nasib ke Kota Atambua, Kabupaten Belu dan langsung mendapat pekerjaan di Toko UD. Angkasa Ria. Karena itu, dia menuliskan tanggal itu pada secarik kertas dan menyimpan rapi dalam dompet hitamnya yang sudah mulai usang.

“Saya simpan biar saya tidak lupa dengan tanggal itu. Biar saya ganti dompet, tapi kertas itu tidak saya buang,” ujar pria asal Haumeni, Desa Baas, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten TTU itu.

Norbertus menuliskan tanggal ini pada secarik kertas yang sudah usang dan disimpan rapi di dalam dompetnya.

Walau hanya ditempatkan di gudang dengan upah Rp 250.000 saja, tapi Norbertus ulet dalam bekerja. Dia dikenal rajin oleh teman kerjanya. Walau bekerja hanya menggunakan penglihatan mata kirinya, namun dia selalu menyelesaikan semua pekerjaan yang menjadi tugasnya. Alhasil, saat ini dia bisa menikmati upah kerjanya Rp 2.150.000 per bulannya.

“Gaji kami naik tidak tentu. Kadang 50 ribu, kadang 100 ribu. Yang terakhir naik 70 ribu. Saya tetap bersyukur dengan apa yang saya dapat,” ucapnya.

Suatu ketika, nasib naas menimpanya. Siang itu, sekitar pukul sebelas siang, tepatnya Sabtu (5/2/2022). Norbertus yang tugasnya bekerja di gudang dipaksa untuk membatu menyelesaikan sebuah bangunan di Gedung Graha Kirani, milik bosnya. Walau tak ada tambahan bonus, tapi Norbertus tetap melaksanakan tugas itu karena perintah bos besar. Saat itu, Norbertus menggunakan mesin pemotong keramik untuk membuat lubang pada salah satu toilet dalam bangunan itu. Baru beberapa keramik dipotong, Tiba-tiba ada sepihan keramik yang pecah mengenai mata kirinya. “Sakit sekali sampai saya tidak bisa lihat. Saya langsung pusing”.

Pria yang memiliki tiga anak itu pun langsung meletakan alat pemotongan keramik dan berjalan perlahan mencari tepat untuk merebahkan kepalanya. “Saya pikir, mungkin sebentar sudah baik”.

Sekitar jam 12 siang, salah satu temannya membangunkan dia dan memintanya untuk melanjutkan pekerjaan. Tapi karena sakitnya tidak berkurang, bahkan kepalanya makin pening, Norbertus pun memberanikan diri pulang ke kos yang tak jauh jaraknya dari tempat dia bekerja.


Share:
5 thoughts on “Nasib Malang Seorang Buruh Toko di Atambua yang Dipecat Usai Mengalami Kecelakaan di Tempat Kerja”
  1. Untuk hal seperti ini yang bertanggung jawab adalah pimpinan perusahaan. Segala hal terkait kebutuhan pengurusan untuk klaim Jamsostek. Dan perusahaan tidak boleh menelantarkan karyawan yang sedang dalam masa sakit.

  2. Kalau melihat dari isi berita ini, maka yang bersangkutan sangat membutuhkan pihak yang berwewenang untuk bisa membantunya mencarika solusi terbaik bagi keluarga Nobertus ini. Semoga ada yang terpanggil dan bisa segera membantunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *