Share:

Belu, Kalam Batu – Kerajaan Naitimu merupakan sebuah kerajaan dengan sederetan sejarah panjang dan kebesaran adat budayanya. Di masa jayanya, ditulisi akan bahwa pusat kerajaan Naitimu berada di Wilayah adat Nanaet Dubesi (kini bernama Halilulik yang berada di Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu). Di atas bukit Nanaet, terdapat banyak sekali petunjuk tentang adanya aktivitas manusia dari dulu hingga saat ini. Ritus tradisional di Ksadan Nanaet biasanya dilaksanakan di sebuah tempat di Bukit Nanaet.

Menurut Legenda perang Nanaet, diceritakan dalam https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/timor-2/raja-van-naitimu/ bahwa rakyat Naitimu berusaha mati-matian mempertahankan benteng Nanaet sebelum direbut oleh penjajah Belanda. Perang tersebut disebabkan oleh beban dan ketidakpuasan rakyat termasuk Raja Naitimu terhadap sebuah Plakat Perjanjian pendek yang dibuat oleh Kolonial Belanda (Korte Verlaring).

Dalam perang itu (Legenda Perang Nanaet), Belanda berhasil menguasai pusat pertahanan Kerajaan Naitimu usai mengalahkan Panglima Perang Naitimu yang bertahan di Benteng Nanaet. Pasukan Belanda pun terus melakukan isolasi terhadap pasukan Kerajaan Naitimu dengan cara menguasai mata air yang berada di dekat Benteng Nanaet.

Raja Naitimu, Fransiskus Manek

Pasukan Naitimu pun akhirnya jatuh ke tangan Penjajahan Belanda akibat kalah peralatan perang. Senjata pasukan Naitimu ialah Rama (Busur), Kahuk (Sumpit), Surik (pedang), Diman (Tombak), dan batu-batu besar yang ada di Bukit Nanaet. Sedangkan Belanda datang dengan menggunakan senjata modern.

Masih banyak dan panjang bila ingin menceritakan menelusuri lebih lanjut tentang sejarah Kerajaan Naitimu. Akan tetapi, ada hal lain yang ingin dibahas yaitu motif tenun ikat masyarakat adat Naitimu.

Kabupaten Belu merupakan salah satu Kabupaten yang kaya akan seni budaya. Seni budaya itu diambil dari kehidupan nyata sehari-hari. Salah satu seni budaya itu tertuang dalam motif tenun ikat masyarakat ada Kabupaten Belu.

Kerajaan Naitimu merupakan salah satu Kerajaan yang ada di Kabupaten Belu. Masyarakat adat Naitimu pun memiliki banyak wujud seni budaya. Salah satunya tertuang dalam motif tenun ikat Adat Naitimu.

Namun, banyak dari motif tenun ikat masyarakat adat Naitimu yang perlahan mulai hilang. Ada beberapa motif tenun ikat masyarakat Adat Naitimu yang mulai sirna yaitu motif eduk, motif We Nain, dan Fatuk Kabelak.

Ada Tenun ikat Fatuk Kabelak ini sendiri, tertuang beberapa motif lain seperti Bambu, Fatuk Kabelak, Burung Bereliku (Burung Decu, red), dan Api.

Motif Fatuk Kabelak ini sendiri sebenarnya diambil dari cerita rakyat yang diturunkan secara turun temurun.

Konon katanya, pada jaman dahulu, Langit dan bumi memiliki jarak yang sangat dekat. Untuk pergi ke Langit atau surga (menurut bahasa tetum Lalean) manusia cukup menggunakan Bambu. Biasanya, manusia pergi ke Lalean untuk mengambil api. Selain itu, manusia pun dapat pergi ke Lalean untuk bertemu dengan nenek moyang mereka yang sudah meninggal. Hal inilah yang membuat hubungan antara manusia dan nenek moyang sangat dekat. Mereka sering melakukan komunikasi.

Burung Bereliku pun memiliki sebuah cerita yang masih dipercayai sebagian masyarakat Kabupaten Belu hingga saat ini. Masyarakat mempercayai bahwa Burung Bereliku merupakan wujut lain dari pesan nenek moyang kepada manusia.

Konon katanya, kicauan Bereliku merupakan simbol bahwa nenek moyang ingin memberitahukan kepada manusia bahwa akan ada penghuni baru di Lalean atau akan ada manusia yang akan meninggal dalam beberapa hari ke depan.

Kembali ke tenun ikat. Beberapa motif di atas yang kaya akan makna dan cerita masyarakat Naitimu perlahan mulai hilang. Entah kapan mulai ditinggalkan, namun dalam beberapa acara adat, masyarakat Naitimu tak lagi menggunakan kain tenun ikat. Sebagai gantinya, mereka lebih sering menggunakan kain selimut (kain lupa) untuk pergi ke tempat acara adat.

Menelisik dari beberapa potret dan dari Raja-raja Naitimu, ada seorang Raja yang menggunakan kain selimut sebagai pengganti tenun ikat. Namanya Raja Fransiskus Manek yang memimpin dari tahun 1915-1950. Dalam sesi protret tersebut, Nai Fransiskus Manek menggunakan Kain selimut yang biasanya digunakan Raja-raja Mataraman.

Mungkin saja ada inferioritas budaya yang mana Sang raja lebih menganggap bahwa menggunakan kain yang diberikan raja Mataraman lebih elok dibanding menggunakan Tais Naitimu. Karena itu, diduga kuat, tenun ikat Naitimu mulai perlahan ditinggalkan pada masa kekuasaan Nai Fransiskus Manek.

Nai Vincentius R. Manek

Namun, terlihat juga dalam sesi potret lain, Raja Vincentius R. Manek yang merupakan Raja Naitimu saat ini menggunakan kain tais Naitimu. Nai Vincentius R. Manek sendiri dalam beberapa acara adat maupun acara pemerintah selalu menggunakan Tais Naitimu. Sebenarnya Nai Vincentius R. Manek ingin mengajak kembali seluruh rakyatnya untuk kembali melestarikan Tais Naitimu yang mana beberapa motif Tais tersebut sudah mulai hilang dari ingatan rakyat Naitimu itu sendiri.

Kerajaan Naitimu memang memiliki sejarah besar dengan sejuta seni dan budaya yang ditinggalkan oleh para leluruhnya. Karena itu, Redaksi Kalam Batu sendiri bersama beberapa pecinta Tais Belu mengajak kaum muda yang terpanggil mengembalikan kelestarian Tais Naitimu untuk kembali mencari jejak ingatan beberapa motif yang perlahan mulai hilang dari ingatan.

Karena itu, menjadi tanggungjawab bersama semua pihak beserta seluruh kaum muda Naitimu untuk kembali mencari tahu dan melestarikan tenun ikat orang Naitimu. (Richi Anyan)


Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *