Belu, Kalam Batu – Bagi orang Timor yang berada di Kabupaten Belu, Perbatasan RI-RDTL, Rumah Adat adalah sebuah rumah yang menunjukkan sejarah peradaban manusia masa lampau. Rumah Adat juga mengandung filosofi yang sarat akan nilai dan makna. Hal itu juga tersurat dalam setiap bagian rumah adat.

Leluhur orang Belu masa lampau tidak tahu tulis dan baca. Akan tetapi, mereka meninggalkan pesan-pesan moral kepada generasi berikutnya lewat simbol-simbol.

Salah satunya adalah “Kotan”. Kotan adalah sebuah balok yang dipasang pada bagian tengah lantai rumah adat. Kotan berfungsi sebagai sekat atau pemisah saat tidur.

Kotan sendiri sebenarnya menyimpan sejuta filosofi dan nila susila dalam peradaban sejarah manusia. Kotan juga menunjukkan seberapa tua peradaban sebuah Suku yang ada di tanah Timor.

Canon katanya, pada zaman dahulu Pulau Timor dipenuhi air laut. Ada satu dua bagian belahan bumi Timor ini yang tampak daratan sempit yang tidak digenangi air laut. Daratan itu disebut dengan istilah adat “Manu Matan, Bua K’laut“ artinya daratan itu hanya seluas bola mata ayam dan kepingan pinang yang dibelah.

Dituturkan bahwa di tempat Manu Matan, Bua K’laut itulah hidup manusia yang tidak diketahui dari mana asal usulnya yang dalam istilah adat dinamakan “Moris Lake Rai, Tubu Lake Rai“ yang artinya “Hidup membelah bumi, tumbuh dari dalam bumi”.

Ketika itu manusia yang ada cuman satu atau dua orang sesuai luasnya daratan tersebut. Manusia yang ada juga hidupnya di dalam gua-gua dan lubang pohon besar sebab belum ada rumah.

Seiring perjalanan waktu, lambat laun, air laut semakin surut dan daratan pun bertambah luas, namun manusia belum berkembang biak.

Pada fase ini manusia tidak diikat oleh norma ataupun aturan tentang nilai susila sehingga manusia bebas melakukan apa saja. Hal ini menurut adat dinamakan “ Uma la no kotan, To’os la no k’ladik “ artinya rumah tidak memiliki sekat, Kebun pun tidak memiliki batas.

Dengan kata lain, semua masih bebas. Tidak ada norma yang melarang. Saudara dan saudari kandung bebas melakukan hubungan badan layaknya suami istri dengan tujuan untuk berkembang biak dan bertambah banyak. Kebiasaan ini berlanjut sampai muka bumi ini dipenuhi oleh manusia.

Dalam perjalanan zaman, manusia, waktu itu, mulai membangun rumah dengan tujuan untuk melindungi diri dari panas dan hujan. Selain itu juga, untuk melindungi diri dari serangan binatang buas. Namun tidak ada sekat di dalam rumah yang memisahkan.

Perkembangbiakan manusia semakin banyak. Maka, pada fase berikut ini disebut-sebut sebagai awal mula timbulnya norma, nilai, dan aturan untuk mengatur kehidupan manusia.

Ketika manusia melihat, jika perkembangan ini tidak dikendalikan, maka muka bumi ini tidak mencukupi maka pada fase ini manusia mulai membangun rumah dengan memberikan sekat pada bagian tengah lantai rumah yang dinamakan “Kotan“.

Ketika manusia memberikan sekat pada ruang tidur dalam rumah maka lahirlah norma susila untuk pertama kalinya.

Pada generasi ini, saudara dan saudari yang pada awalnya bisa berhubungan badan seperti suami istri, sudah tidak bisa lagi melakukannya karena sudah ada Norma yang melarang.

Norma itu ditandai dengan adanya “Kotan“. Karena itu, muncul pepatah “Uma No Kotan, To’os No K’ladik“ artinya “Rumah sudah ada sekat, Kebun pun sudah ada batas“. Barang siapa yang melanggar Kotan, maka dia akan menerima sangsi adat.

Oleh sebab itu Kotan bagi masyarakat adat adalah titik awal timbulnya Norma Susila, dan titik awal adanya hubungan kekerabatan yang disebut “Feto sawa, Uma mane“ atau awal mulanya manusia sekandung mengenal saudara dan saudari.

Selain itu, Kotan juga dikenal sebagai cikal bakal munculnya arsitektur rumah modern. Manusia membangun dengan ada kamar sehingga baik orang tua, saudara, maupun saudari tidur dikamarnya sendiri.

Kotan ini juga menunjukan lama tidaknya sebuah suku. Bagi suku yang rumah adatnya tidak memiliki Kotan menunjukan bahwa Suku tersebut lebih tua atau ada lebih dahulu dari suku yang rumah adatnya memiliki Kotan. (Pius Fahik & Richi Anyan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *