Share:

Suatu sore pada kehadiran pertama tahun 2018 di Kogo, Gill duduk bermain gitar di depan rumah dinas. Suasana belum ramai di jalan depan rumah. Sekolah berada tak jauh dari situ, penuh rumput setinggi pinggang di sekeliling. Ia menyanyikan beberapa lagu.

Sesaat setelah mendengar bunyi gitar anak-anak di sekitar mulai berdatangan. Satu menyusul satu. Mereka mendekatinya. Ada yang berdiri agak jauh, malu mendekat. Ia mengajak mereka bernyanyi.

Semenit berselang semakin banyak yang datang. Yang jauh ikut mendekat. Mereka mengelilinginya, melihatnya bermain gitar lekat-lekat nyaris tak berkedip. Beberapa mata terlihat melotot, mulut sedikit terbuka dihiasi ingus meleleh di bawah hidung. Konser tunggal dadakan berlangsung. Suasana semakin ramai melebur bersama suara gitar kemudian.

Konser tunggal dadakan berlangsung. Suasana semakin ramai melebur bersama suara gitar kemudian

Saat ia menyanyikan lagu Indonesia Raya, mereka ikut. Mulut terbata-bata mengucapkan lirik mengikutinya. Banyak dari mereka mengambil lirik akhir atau tengah sesuai ingatannya atau mungkin kebetulan menebak tepat. Mereka perhatikan gerak mulut Gill dan mencoba mengikuti dengan suara. Mereka begitu ingin terlibat bernyanyi sepenuhnya dengan iringan gitar. Tak peduli seberapa tak tahu liriknya, bunyi gitar memikat mereka bernyanyi hingga gelap. Perkenalannya dengan anak-anak dimulai saat itu.

Hari pertama sekolah diawali dengan kunjungan seorang pemabuk mengacaukan suasana pagi. Pemabuk itu datang mengganggu beberapa murid, mengejar mereka lalu menuju kelas memecahkan setiap kaca jendela yang ada dengan kapak. Saat itu anak-anak sedang membersihkan pekarangan dan ruang belajar. Ada yang membabat rumput, ada yang membersihkan ruangan. Kehadiran pemabuk sangat mengganggu kesenangan anak-anak saat membersihkan sekolah.

Bukan, anak-anak bukan senang membersihkan sekolah. Mereka senang karena kedatangan guru baru. Beberbapa warga datang mengejar si pemabuk dan berencana mencederainya. Pemabuk itu lari menyelamatkan dirinya ke hutan dalam waktu yang lama.

Gill tidak mau anak didiknya mengikuti jejak si pemabuk. Sebagai guru, ia merasa harus melakukan sesuatu untuk membentuk mental mereka: terpelajar, bukan pemabuk. Ia membawa gitar setiap hari sekolah, mengajarkan muridnya abjad dengan bernyanyi sambil memainkan gitar. Itu memikat anak-anak datang ke sekolah, katanya. Mereka semangat ke sekolah. “Saya lihat mereka bahagia sekali saat kami bernyanyi bersama.”

Gill menggunakan gitar sebagai jimat memikat anak didiknya untuk terus ke sekolah dan belajar. Ia sering mencoba mengajak mereka ke depan kelas satu per satu untuk bernyanyi namun mereka masih sangat malu. Kalau menyanyi keroyokan semangat.

Proses latihan membawa hasil baik

Pernah suatu kali ia meminta mereka bernyanyi lagu daerah Papua. Mereka bernyanyi, tapi bukan lagu yang diinginkan Gill. Mereka bernyanyi lagu pop dalam Melayu Papua. Lagu anak muda kekinian. Ia kemudian menyadari, tak satu pun anak didiknya mengenal lagu daerahnya, lagu dalam bahasa ibunya.

Gill memberi tugas rumah kepada anak didiknya mencari tahu lagu-lagu daerah Mappi berbahasa Yaqai pada orang tua. Ia juga ikut terlibat dalam pekerjaan itu. Setiap orang tua ia tanyai informasi tentang lagu daerah.

Lagu apa pun yang mereka nyanyikan ia rekam kemudian diaransemen kembali versinya. Beberapa lagu bahasa daerah Yaqai terkumpul. Ia dan anak didiknya berlatih bersama, tidak hanya lagu bahasa Yaqai tapi juga Lamaholot, lagu daerah tempat ia berasal. Mereka membentuk satu paduan suara: Vocal Group SD YPPK Sta. Dominika.

Mereka adalah anak-anak kampung pedalaman Mappi, Papua, yang sedang berjuang menaklukan buta huruf. Mereka sedang belajar membaca, menulis dan berhitung. Jelas, pelajaran dan pengetahuan umum belum dikuasai dengan baik.

Proses latihan membawa hasil baik. Mereka dipercayakan untuk membawakan lagu di gereja pada ibadat hari Minggu.

“Saat kami bawakan koor di gereja, semua orang tua merasa senang. Ada yang menangis hingga datang dan peluk saya setelah ibadat. Saya merasa tidak layak dipeluk begitu. Mereka memuji berlebihan. Mungkin karena mereka lihat sendiri anaknya sudah bisa menjadi lektor yang bertugas membaca Kitab Suci, dan bernyanyi dengan baik selama ibadat. Dari pertama kami tampil di gereja itu mulai banyak anak-anak ke sekolah dan ingin bernyanyi di gereja. Ada murid yang bilang, pak guru, saya senang dapat tepuk tangan. Nanti pak guru suruh apa saja saya ikut. Dengar itu saya rasa bahagia, seperti sudah mendapatkan hati mereka. Mereka mau datang ke sekolah untuk belajar,” kenang Gila.

Setelah ibadat di gereja selesai, anak-anak diberi waktu untuk menghibur umat dengan lagu-lagu rohani lainnya. Mereka diapresisasi berupa tepuk tangan. Bagi Gill, apresiasi membuat anak-anak merasa dihargai. Katanya, dalam membangun mental yang baik, poin utamanya adalah anak merasa dihargai. Selain itu ia ingin melestarikan budaya mereka, khususnya lagu-lagu bahasa ibu mereka melalui vocal group itu.

Mereka adalah anak-anak kampung pedalaman Mappi, Papua, yang sedang berjuang menaklukan buta huruf.

“Saya memberi mereka tugas mencari lagu bahasa ibunya dan pahami artinya dalam bahasa Indonesia. Saya sering mengumpulkan lagu-lagu daerah mereka dari para orang tua yang masih ingat, setelah itu saya ubah aransemenya dalam versi saya dan kami menyanyikan itu dalam vocal grup anak.” Vocal Group SD YPPK Sta. Dominika Kogo masuk nominasi lima besar pada kompetisi bernyanyi lagu ciptaan sendiri di Papua Green Sound and Culture 2020. Mereka diundang dalam Konser Musik Online memperingati Hari Masyarakat Adat Sedunia dan Hutan Indonesia Tahun 2020.

Bagi mereka, ini sudah seperti kemenangan megah. PGSC memiliki gengsi khusus yang memantik gairah kompetitif generasi muda se-Papua bersaing mendapat penghormatan sebagai sang juara. Secara regional, ini bergengsi. Siapapun yang menang di PGSC akan merasa terhormat.

Tahun 2020 juri memberi pernghormatan kepada Vocal Group SD YPPK Sta. Dominika sebagai sang juara PGSC 2020. Menurut juri, Iksan Skuter dan Michael Jakarimilena, dalam seni kita menyuarakan apa yang memang harus disuarakan, seperti perdamaian, juga pesan merawat budaya, tanah dan alam. Seni bukan bicara hari ini, tapi seni bicara untuk masa depan. Pesan ini ada dalam lirik lagu dan penampilan anak-anak Vocal Group YPPK Sta. Dominika. Ini factor kemenangan mereka. Kaget tapi bahagia. Tidak percaya tapi haru.

apresiasi membuat anak-anak merasa dihargai

Pada momentum kemenangan haru bersama anak didiknya, Gill teringat suatu peristiwa dulu. Ia pernah dipecat dari program Guru Pengerak Daerah Terpencil Mappi, Provinsi Papua. Bila memang surat pemecatan benar-benar dikeluarkan waktu itu, mereka tidak merayakan kemanangan ini. Juga, tidak lagi benyanyi sebagai paduan suara di gereja.

Gill dan kekasihnya dipecat karena dianggap melanggar isi kontrak kerja, hamil di saat menjalankan program tersebut. Setelah dicek isi perjanjian tak mencantumkan larangan untuk hamil selama bertugas.

Ia ingat betul saat-saat hendak mengangkat kaki dari Kogo, keluar dari rumah dinas bersama kekasihnya, Fani. Meskipun pemecatan hanya disampaikan lewat telepon mereka ingin segera pergi.

Niat mereka, dijegal oleh warga sekampung.Saat hari menuju malam orang-orang datang ke rumah bersama kepala kampung. Mereka berniat membakar sekolah jika Gill dan kekasihnya pergi. Gill berusaha menenangkan mereka, memberi pandangan baik agar tak melakukan hal gegabah. Mereka menolak berkompromi. Dengan tegas mereka katakan akan membakar sekolah. Gill menjelaskan bila sekolah dibakar anak-anak tidak bisa belajar lagi. “Kami tidak butuh sekolah lagi,” kata seorang warga. Tidak satu pun dari mereka mengijinkan anaknya ke sekolah bila Gill pergi.

Gill ingat kata-kata yang didengarnya saat itu, “selama ini Pak Guru sudah kasih bangun kami. Sekarang kami sudah bangun. Anak-anak sudah menyanyi baik. Kalau Pak Guru pergi, sekolah kami bakar. Anak-anak kami bawa ke hutan.”

Katanya, dalam membangun mental yang baik, poin utamanya adalah anak merasa dihargai

Gill dan kekasihnya memutuskan untuk tinggal sembari menunggu kehadiran surat pemecatan. Selama di kampung proses belajar terus berjalan. Ia dan kekasihnya terus mengajar hingga tiga hari sebelum kekasihnya melahirkan. Fani, kekasihnya, kembali mengajar setelah sepuluh hari melahirkan. Selama waktu menunggu surat pemecatan, gaji mereka diblokir sejak November 2019. Gill baru menerima gajinya Februari 2020. Fani April 2020.

M. Adi Suhendra Lamablawa yang akrab disapa Gill adalah Guru Penggerak Daerah Terpencil di pedalaman Mappi sejak 2018. Kehadiran pria kelahiran Watoone, Adonara Timur 13 Maret 1989 itu membongkar kebiasaan lama, membangunkan anak-anak dari tidur lelap nan panjang. Membuka mata mereka dan menunjukan kemana jalan menuju sekolah.

Di sekolah ia mempunyai cara sendiri membuat anak-anak tertarik belajar membaca, menulis, dan berhitung. Dibawanya gitar ke sekolah sebagai media saat mengajar. Kemahirannya bermain gitar dan bernyanyi membuat anak-anak terpukau. Di sela-sela mengenalkan abjad ia menghibur mereka. Anak-anak dibuat melupakan penatnya belajar, rumitnya mengingat bentuk-bentuk huruf.

Ia membongkar kebiasaan lama, membangunkan anak-anak dari tidur lelap nan panjang. Membuka mata mereka dan menunjukan kemana jalan menuju sekolah.

Menyanyi dan bermain gitar di sekolah membuat mereka merasa sekolah itu menyenangkan. Sekolah sebelumnya hanya dianggap bangunan tempat mengumpulkan anak-anak untuk ikut Ujian Nasional setahun sekali. Datang ke sekolah sesuai keberadaan guru di kampung yang tak menentu (beberapa bulan sekali) tak lebih dari sekedar menghabiskan waktu yang, bisa jadi, mengganggu rutinitas mengumpulkan makanan di hutan, kali dan rawa.

Kini, sekolah adalah tempat dan suasana anak-anak bermain, bernyanyi sembari mengenal angka dan abjad. Bersama Gill, anak-anak menjadi tahu ternyata belajar membaca, menulis dan berhitung bisa dilakukan sambil bermain gitar dan bernyanyi. Sekolah ternyata tempat bermain yang asik seperti hutan, rawa dan kali. (Dedi Lolansolot)


Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *