Share:

Belu, Kalam Batu – Bupati Belu, dr. Agustinus Taolin, Sp.PD-KGEH, FINASIM meminta kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk mendukung Tais Belu dalam ajang nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2021 untuk kategori Cendera Mata.

Tais (Kain, red) Belu merupakan salah satu sani peninggalan Leluhur orang Belu. Sini itu tertuang dalam selembar Tais. Melalui motif yang dipintal membentuk gambar atau simbol-simbol. Gambar atau simbol itu diambil dari cerita dongeng atau cerita hidup masyarakat Belu.

Jes A. Therik dalam bukunya Tenun Ikat dari Timur pernah menuliskan sepenggal puisi berjudul “Mengukur Tenun Nusa Tenggara Timur” dengan sajak yang begitu menggugah.

Bila kau datang berlabuh nun di tempat kami yang jauh Kau akan mendapatkan sambutan dalam kepolosan Mereka akan bersenang hati menunjukkan karya seni abadi Yang orang buta pun dapat merasa keangungannya yang luar biasa Kami tidak mengada-ada, tidak meniru semena-mena Kami tak dapat berpura-pura, tetapi dapat mengira-ngira Hanya kepada kawan, budaya ini akan kami turunkan Dan bukan kepada mereka, yang hanya merusak segala-galanya Demikianlah agar orang mengerti, apa sebenarnya citra kami Cita dan citra Nusa Tenggara Timur, tidak mudah kabur dan luntur Sebagaimana Akimbo yang selalu tegak dan tegas Demikian pula Moni Mbani harus membentuk diri Bagaikan padang rumput yang selalu hijau menghimbau.

Sajak tersebut memang merupakan gambaran karakter masyarakat Belu . Proses pembuatan Tais Belu sendiri terbilang unik dan sangat tradisional. Mulai dari mengubah kapas menjadi benang dengan menggunakan alat tradisional, mewarnai benang menggunakan pewarna alam, hingga proses penenunan hingga menjadi sebuah kain.

Proses unik dan sangat tradisional ini tentu tidaklah instan. Untuk menjadi benang saja membutuhkan waktu berhari-hari. Untuk membuat benang berwarna menggunakan pewarna alam pun membutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan bulan. Sebelum menenun, si Penenun harus lebih dahulu mengikat benang membentuk motif tertentu. Terakhir adalah proses menenun menggunakan alat-alat tradisional dari kayu.

Proses panjang ini ternyata mampu menghasilkan sebuah karya yang luar biasa dan disukai banyak orang. Maka tak heran bila walau harganya mahal, namun tetap laris di pasaran.

Kampung adat yang berada di Desa Duarato, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu pun menjadi saksi akan larisnya Tais Belu pada saat kunjungan Bupati dan Wakil Bupati Belu, Agustinus Taolin dan Aloysius Haleserens bersama beberapa Kepala Dinas dan para pengusaha, Jumat (3/9/2021).

Beberapa Tais Belu dengan hargai mulai dari Rp 500.000 hingga Rp 3.000.000 yang dipajang di area Kampung adat itu hampir habis terjual. Tak terkecuali beberapa tas unik yang dijual murah.

Tais Belu yang laris di pasaran dengan harga yang terjangkau

Tak hanya memajang Tais untuk dijual saja, masyarakat Kampung Adat Duarato juga memamerkan proses pembuatan tenun ikat mulai dari proses pengubahan kapas menjadi benang hingga proses tenun.

Bupati Belu, dr. Agustinus Taolin melihat langsung pertunjukan masyarakat Duarato saat memproses Kapas menjadi Benang

Tais Belu merupakan salah satu ragam tenun Indonesia yang telah mendunia.Kain Ikat asal Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur mendapatkan perhatian besar dan mempesona di hadapan para pengunjung kegiatan “Together with Ikat: Dutch and Indonesian Artisans’ Workshop” di Aula Nusantara, KBRI Den Haag, Belanda, Kamis (28/11/2019) lalu. Acara tersebut dihadiri ratusan orang dari komunitas Belanda, diaspora Indonesia, dan berbagai kalangan dari berbagai negara.

Kegiatan dikemas dengan menarik, informatif, dan terbilang langka di Belanda. Sehingga para peserta dan pengunjung kegiatan tampak begitu antusias dan menikmati setiap tahapan kegiatan yang disuguhkan. Berdasarkan keterangan KBRI Den Haag, aula tetap penuh sesak meskipun kegiatan dimulai dari pagi hari hingga malam.

Dimulai dengan presentasi yang menjelaskan tentang kain ikat, sejarah, makna, serta proses pembuatan kain ikat, pewarna alami yang dipakai dan penjelasan berbagai jenis kain dan desain serta peruntukan Ikat di masyarakat NTT. Kegiatan dilanjutkan dengan pertunjukan secara langsung bagaimana para pengrajin Ikat membuat kain tersebut dengan alat-alat yang dibawa langsung dari Kabupaten Belu, NTT.

Puncak kegiatan di malam hari semakin menarik. Karena ditutup dengan tarian proses pembuatan kain Ikat dan Fashion Show. Keindahan kain Ikat dipamerkan pada sesi ini dengan sangat menawan dan membuat ratusan pengunjung kagum dengan desain modern yang ditampilkan. Tidak mengherankan jika sebagian pengunjung langsung menyatakan ketertarikannya untuk membeli produk-produk yang dipamerkan setelah kegiatan selesai dilaksanakan.

Koordinator Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya, KBRI Den Haag, Fery Iswandy, yang mewakili Duta Besar RI menyampaikan bahwa dirinya begitu bahagia dan terhormat karena bisa menjadi bagian dalam usaha promosi dan pelestarian salah satu kekayaan nusantara yaitu kain Ikat asal NTT di Belanda. Kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen Pemerintah Indonesia untuk terus mendukung upaya-upaya untuk memajukan produk-produk nasional ke mancanegara.

“Kegiatan yang inspiratif, informatif, edukatif dan menghibur. Kita semakin bangga manjadi warga negara Indonesia dengan segala kekayaan yang dimiliki. Ke depan kami yakin, fashion Indonesia akan menjadi salah satu produk yang paling diburu dan diminati banyak kalangan dari mancanegara,” ucapnya.

Bupati dan Wakil Bupati Belu (tengah) didampingi Ketua dan Wakil Ketua Penggeraknya PKK Kabupaten Belu memohon kepada Masyarakat Indonesia untuk mendukung Tais Belu dalam Nominasi API Award

Tais Belu saat ini masuk dalam nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2021 untuk kategori Cendera Mata. Karena itu, Bupati dan Wakil Bupati Belu bersama Ketua dan Wakil Ketua PKK Kabupaten Belu mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Belu dan masyarakat Indonesia untuk ikut mendukung Tais Belu memenangi penghargaan tersebut dengan cara SMS Ketik API 6G kirim ke 99386.

“Mari Kita Gunakan Tais Belu sebagai warisan budaya dari para leluhur dan juga kebanggaan Masyarakat Belu dan Masyarakat Indonesia,” tutupnya. (Richi Anyan)


Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *